Apa itu Agile?

Maret 12, 2019
Posted in Produk
Maret 12, 2019 Ivan Syafarwan

Agile method merupakan sebuah pendekatan pada manajemen proyek (dalam software development) dengan menggunakan teknik iterasi dan bertahap (sprint) untuk mengahadapi perubahan dalam proses pembuatan sebuah produk. Kolaborasi ini melibatkan tim yang mampu mengorganisir pekerjaan secara mandiri dan juga pemegang kepentingan ataupun pengguna langsung. Pada saat anda mengimplementasikan Agile dalam sebuah proses pengembangan produk, tim yang terlibat harus siap untuk melakukan perencanaan secara adaptif, penyempurnaan berkelanjutan dan merespon perubahan dengan cepat. Dengan kata lain, tidak ada perencanaan tanpa melibatkan respon dari pengguna produk itu sendiri.

Proses pengembangan produk secara Agile

Metode Agile dipercaya dapat menghasilkan produk yang lebih akurat dan berguna bagi pengguna dengan secara cepat dengan membagi setiap produk menjadi bagian kecil untuk menghindari perencanaan dan disain awal yang terlalu rumit. Bagian kecil inilah yang dijadikan daftar pekerjaan yang harus diselesaikan dalam sprint dengan melibatkan tim dalam melakukan berbagai aspek pekerjaan mulai dari perencanaan, analisa, design, koding, testing unit dan acceptance testing. Pada akhir setiap sprint, fungsi yang telah berjalan akan di demonstrasikan kepada stakeholder agar product dapat beradaptasi dengan perubahan pada kebutuhan bisnis secara cepat. Tujuan dari iterasi bukanlah untuk menyelesaikan satu produk jadi, akan tetapi mempersiapkan release (dengan seminim mungkin bug). Untuk mendapatkan sebuah feature yang benar-benar berfungsi dan siap untuk pasar, kadangkala melibatkan beberapa iterasi. Software yang dapat bekerja dengan baik merupakan ukuran utama dalam metode Agile.

Untuk memastikan setiap individu yang terlibat memberikan hasil maksimal dalam Agile development, lingkungan kerja memiliki pengaruh yang sangat besar. Komunikasi tatap muka secara langsung merupakan faktor penting untuk membangun sebuah tim yang kuat, bahkan melibatkan representatif dari pengguna (Product Owner dalam scrum). Hal ini untuk menghindari lamanya proses komunikasi yang biasanya terjadi apabila komunikasi dilakukan melalui telepon, chat, wiki atau email. Product Owner bertanggung jawab untuk menjawab semua pertanyaan dari tim development selama iterasi dan melakukan review diakhir iterasi termasuk melakukan re-evaluasi prioritas produk agar sesuai dengan kebutuhan pengguna dan tujuan perusahaan.

Tim harus melakukan daily standup untuk saling menginformasikan perkembangan yang terjadi setiap hari. Secara singkat masing-masing individu melaporkan apa yang mereka kerjakan pada hari sebelumnya dan apa yang akan dikerjakan hari ini dan membahas apabila ada permasalahan yang dihadapi. Dengan melakukan daily standup, tim dapat baradaptasi dengan perubahan yang mungkin terjadi selama masa iterasi dan berfokus pada kualitas delivery.

Bagaimana Agile bermula?

Dengan pola development yang mengutamakan pengguna saat ini, Agile mampu menjawab kebutuhan organisasi untuk melampaui software development dan lebih mampu beradaptasi dengan kebutuhan pengguna yang semakin kompleks.

Kembali ke tahun 1957, metode iterasi dan development bertahap telah di implementasikan dalam evolutionary project management dimana kemudian berubah menjadi adaptive software develoment pada awal 1970 an.

Seiring berjalannya waktu, beberapa metode framework mulai bermunculan di skena software development pada era 1990 an. Mulai dari rapid application development (RAD), unified process (UP), dynamic system development method (DSDM), extreme programming (XP), dan scrum. Walaupun metode dan framework tersebut telah terlebih dahulu diimplementasikan, saat ini secara kolektif mereka dikenal sebagai agile development method.

Hingga kemudian pada tahun 2001 ketika 17 orang developer mengumumkan Agile Manifesto dalam pertemuan yang dilakukan di Snowbird, Utah dengan pembahasan mengenai metode development yang ringan. Diantara para peserta pertemuan dini terdapat nama-nama seperti Kent Beck, Ward Cunningham, Dave Thomas, Jeff Sutherland, Ken Schwaber, Jim Highsmith, Alistair Cockburn, dan Robert C. Martin.

Berdasarkan pengalaman mereka dalam membangun software, 17 penandatangan manifesto ini memaparkan beberapa nilai berikut :

Individu dan interaksi daripada proses dan peralatan

Piranti lunak yang bekerja daripada dokumentasi komprehensif

Kolaborasi dengan pengguna daripada negosiasi kontrak

Merespon perubahan daripada mengikuti rencana

Seiring dengan nilai-nilai tersebut, Manifesto pada Agile Software Development berdasarkan pada duabelas prinsip :

  1. Kepuasan pengguna melalui delivery software yang cepat dan berkelanjutan.
  2. Menyambut perubahan kebutuhan, bahkan pada saat akhir development.
  3. Mengirimkan software yang bekerja secara teratur (mingguan lebih baik daripada bulanan)
  4. Menjaga kedekatan  dan kerjasama antara tim bisnis dengan developer.
  5. Pekerjaan dibangun dilingkungan orang-orang yang penuh motivasi dan terpercaya.
  6. Komunikasi secara tatap muka adalah bentuk komunikasi terbaik (co-location)
  7. Software yang bekerja adalah ukuran utama dari progres.
  8. Development yang berkesinambungan dapat menjaga kecepatan secara konstan.
  9. Atensi berkelanjutan pada skill teknikal dan design yang baik.
  10. Kesederhanaan – seni dalam memaksimalkan pekerjaan yang belum selesai adalah hal yang sangat penting.
  11. Arsitektur terbaik, kebutuhan, dan design muncul dari tim yang mampu mengorganisir secara mandiri.
  12. Secara teratur, tim melakukan refleksi untuk menjadi lebih efektif dan menyesuaikan dengan hasil refleksi tersebut.

Siapa yang mengimplementasikan Agile?

Eksperimen ini diawali dengan satu tim dan berkembang kepada grup dan organisasi yang lebih besar. Salah satu perusahaan yang menggunakan Agile dalam membangun produknya saat ini adalah Spotify. Ketika meluncurkan Spotify untuk pertama kali, mereka menggunakan scrum dalam membangun produk mereka, seiring dengan berkembangnya produk, mereka membuktikan bahwa agile dapat menjawab kebutuhan pengguna mereka. Langkah yang diambil Spotify dengan menggunakan scrum pada saat pengembangan produk mereka merupakan pendekatan yang luar biasa. Karena dengan menggunakan scrum pada saat merencanakan produk seperti apa yang ingin mereka tawarkan kepada pasar, mereka tidak kehilangan fokus. Tetapi ketika jumlah pengguna melonjak, tindakan mereka untuk pivot ke Agile development justru sangat membantu mereka dalam memahami pengguna mereka dan secara berkesinambungan memberikan produk yang tepat untuk pasar mereka. Spotify menunjukkan bahwa menggunakan metode dan pendekatan yang tepat seperti Agile dalam membangun sebuah produk dapat menguntungkan dan memberikan kepuasan pada kedua belah pihak baik pelanggan maupun pemilik bisnis.

Video berikut dapat akan memberikan penjelasan bagaimana Spotify berpindah dari scrum ke Agile.

Dengan segala kelebihan dan nilai yang ditawarkan oleh Agile, praktik tersebut dapat menjadi in-effektif pada organisasi besar dan beberapa tipe development. Beberapa pelaku usaha masih menganggap bahwa Agile sedikit terlalu ekstrim untuk di adopsi, sehingga mereka memilih menggunakan metodologi hybrid dengan menggabungkan Agile dengan pendekatan yang lebih terencana seperti DSDM dan scrum tanpa mengorbankan prinsipnya secara fundamental.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Contact

Get Connected.

We welcome you to contact us for more information
about any of our products or services.

We would love to talk to you!

Let's have some coffee

Whatever the project is you want us to work on, or whatever problem you have. Please reach out to us! We would love to talk to you and learn more about how we can help you.

Every project is different and we want to translate your wishes in a solution that makes or saves you money. From Web Development, Mobile Development to full end to end projects we are looking forward to starting this journey with you.

CALL: +62 21 30032327

Contact